"Bahaya Mabuk Pujian"
KH.
Abdullah Gymnastiar
Dipuji,
dikagumi, diperlakukan spesial itu sangat nikmat, sehingga banyak
orang yang sangat merindukannya.
Dan
bagi yang tak hati – hati dan tak kuat iman, akan banyak kerusakan
yang timbul bila sudah diperbudak dan mabuk pujian.
Seperti
orang mabuk; berpikir,
berbicara, bersikap dan mengambil keputusan menjadi tak normal /
error.
Hati
akan cenderung hilang kepekaan, mudah tersinggung dan sakit hati bila
orang tak memuji atau mmperlakukannya tak sesuai harapan.
Hidup
selalu galau, sangat cemas orang tak lagi memperhatikannya. akal
selalu berputar akibatnya jadi kurang peduli kepada yang lain, selalu
orientasi diri sendiri.
Sibuk
sekali membangun ‘kemasan’/topeng’ demi penilaian orang walau
harus berhutang atau menanggung resiko yang berat.
Orang
– orang disekitarnya pecinta penilaian manusia, tak akan merasa
nyaman, karena yang bersangkutanpun tak nyaman dengan dirinya
sendiri.
Hubungan
dengan Allohpun semakin terhijab, walau banyak ilmu agama dan rajin
ibadah, karena di hatinya bukanlah Alloh yang dituju melainkan sibuk
dengan penilaian makhluk.
Mengapa
orang memuji? Karena mereka tidak tahu siapa diri kita. Kalau mereka
tahu siapa kita sebenarnya, pasti mereka tak akan memuji. Celakanya
kalau dipuji, kita menikmati sesuatu yang sesungguhnya tidak ada pada
diri ini.
Pujian
dapat membuat kita jadi yakin seperti apa yang dikatakan orang,
sampai kita tidak jujur kepada diri sendiri. Sebenarnya yang tahu
seperti apa diri ini adalah kita sendiri. Orang yang memuji hanya
menyangka saja.
Seharusnya,
pujian itu membuat kita malu. Karena apa yang mereka katakan,
sebenarnya tidak ada pada diri kita. Tapi bagi para pecinta dunia,
mereka akan menikmati sesuatu yang tidak ada pada dirinya. Artinya,
dia berbohong pada dirinya sendiri.
Bahayanya
pujian itu ada tiga :
Pertama, kita
jadi terpenjara oleh pujian orang. Kita takut kehilangan segala
pujian pada diri. Akibatnya, kita melakukan apa saja supaya pujian
itu tidak hilang. Orang yang dipuji dan memercayai pujian, dia tidak
akan menerima nasihat dari orang lain. Karena dia benar-benar
termakan, terbelenggu dan terpenjara oleh pujian tersebut.
Kedua, dia
sangat sulit mengakui kekurangannya. Ini adalah malapetaka. Orang
yang tidak bertaubat, dialah orang zalim. Orang yang tidak mau
mengakui dosanya itu termasuk zalim. Kalau kita telah menyakiti
orang, tetapi tidak mengakui, berarti kita sudah zalim. Zalim pada
orang dan pada diri sendiri.
Ketiga, kalau
orang sudah senang dipuji, maka tidak ada ikhlas dalam dirinya.
Karena segala perbuatan yang dilakukannya hanya untuk mempertahankan
pujian. Dia akan mengatur penampilan dan sikapnya agar terlihat baik
bagi orang. Apakah mungkin orang seperti ini akan ikhlas? Jawabannya
tidak! Karena dia melakukan apapun bukan untuk Allah lagi, tapi
karena untuk pujiannya. Tiap hari pekerjaannya hanya berpikir
bagaimana agar tetap dianggap teladan.
Seorang
anak yang sudah terbiasa dipuji, berarti kita merusak dia. Dia akan
merasa dirinya istimewa. Dia merasa dirinya khusus dan merasa dirinya
lebih dari orang lain. Maka tunggulah ketika dia dewasa, dia tidak
akan memandang orang tuanya. Karena dia dibesarkan untuk tidak jujur
melihat dirinya. Dia dibesarkan untuk melihat dan membangun
topengnya.
Rasulullah
SAW bahkan amat tidak berkenan bila melihat orang lain
memuji-muji:
“Bila
kamu melihat orang-orang yang sedang memuji-muji dan
menyanjung-nyanjung maka taburkanlah pasir ke wajah-wajah mereka.”
(HR. Ahmad)
Jangan
menikmati pujian atau jangan termakan terjebak pujian. Pujian itu
bisa memabukkan diri seseorang. Segalanya bisa jadi alat untuk
membuatnya dipuji. Berbuat sederhana pun bisa menjadi alat pujian,
yakni, supaya dinilai tawadlu. Padahal dengan pujian-pujian itu
hidupnya bisa menjadi munafik. Orang-orang di sekitarnya juga tidak
nyaman, karena orang-orang tidak bisa dibeli hatinya dengan
kepura-puraan.
Islam
mengajarkan kita menjadi orang yang asli. Murni tanpa rekayasa dan
kepura-puraan. Apa yang kita perbuat tujuannya cuma satu agar Allah
menerima (ridha). Tidak ada masalah dengan penerimaan dan penghargaan
dari orang lain. Yang penting apa yang kita lakukan benar, tidak
menyakiti dan melanggar hak orang lain.
Tidak
ada kepura-puraan, tidak ada kepalsuan. Antara perbuatan dan
perkataan sama, maka akan tercipta rasa nyaman. Nyaman untuk
kita, nyaman untuk orang di sekitar kita. Kalau berpura-pura, kita
akan merasa tidak nyaman. Orang lain pun juga merasa sama, tidak
nyaman.
Islam
itu Nyaman di
hati betapapun badai harus dihadapi. Kenapa? Karena tidak ada
kepura-puraan.

No comments:
Post a Comment